Selasa, 17 Januari 2012

Makalah POST MODERNISME DOLANAN TRADISIONAL







MAKALAH
POST MODERNISME DOLANAN TRADISIONAL
Disusun untuk memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Ilmu Budaya











 Oleh :
Asih Setyarini        (2601409073)
Rombel  1


JURUSAN BAHASA DAN SASTRA JAWA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011

BAB I
PENDAHULUAN

I.         Latar Belakang
Permainan tradisional atau dolanan anak saat ini terancam punah karena mulai tergusur oleh gempuran budaya modern yang lebih banyak diterima anak-anak. Perkembangan jaman dan globalisasi juga merambah dunia bocah (anak-anak). Anak-anak jaman sekarang juga menikmati perkembangan tekhnologi cyber. Berbagai jenis permainan anak modern seperti Playstation menjamur tak terbendung. Tentunya dengan berbagai dampak yang mengikutinya, entah itu dampak positif maupun negatif.
Dolanan bocah tradisionalpun perlahan namun pasti mulai ditinggalkan karena dianggap kuno serta melelahkan. Padahal jika ditinjau lebih dalam, beragam permainan tradisional tersebut secara langsung memberikan pelajaran hidup kepada anak-anak tentang toleransi, interaksi sosial, kerja sama tim dan wawasan. Bisa dibandingkan dengan permainan elektronik sekarang lebih banyak membentuk perilaku anak menjadi penyendiri serta cenderung anti sosial (susah bergaul, egois dan lain-lain).Untuk itu, diperlukan upaya revitalisasi demi menjaga kelestarian dolanan tersebut.
II.      Permasalahan
 Dari latar belakang di atas kemudian timbul pertanyaan sebagai pokok permasalahan yaitu :
1.    Apa saja permainan tradisional itu?
2.    Bagaimana menumbuhkan kembali permainan tradisional di jaman modern?










BAB II
PEMBAHASAN

I.         MACAM-MACAM DOLANAN TRADISIONAL
Berikut ini adalah macam-macam dolanan tradisional yang sudah punah atau hampir punah.
1.      Jamuran
Permainan ini dilakukan secara berkelompok beramai ramai bergandengan ditengah sambil menyanyikan lagu di bawah rembulan penuh dengan menyanyikan: Jamuran, jamuran, yo ge gethok, sira mbede jamur apa? Lalu pemain yang ditengah menyebutkan sesuatu, seperti jamur parut, maka pemain harus mengangkat kakinya untuk di kliti-klitik, jika tertawa maka dia yang jadi di tengah, jamur kendhi, semua pemain harus kencing, jamur payung semua pemain harus mengangkat satu tangan dan si pemain mengelitik ketiaknya yang tertawa maka dia yang jadi ditengah dan lain-lain.
2.      Cublak-cublak suweng
Satu orang diminta melakukan posisi seperti orang bersujud, ndhekem. Kemudian empat atau lima anak lainnya bermain menggilirkan sebuah kerikil ditangan mereka sambil bernyanyi:
Cublak cublak suweng, suwenge ting gelenter mambu ketundhung gudel pak gempo lela lelo sapa ngguyu ndhelikake. Sirpong dhele kosong, sirpong dhele kosong.
Setelah selesai anak yang ndekem tadi menebak kerikil ditangan siapa, jika benar tebakannya maka yang memegang kerikil akan menggantikan posisi ndekem namun jika salah maka si penebak akan tetap pada posisi ndekem.
3.      Dhingklik oglak aglik
Permainan anak ini dimainkan dengan saling mengaitkan salah satu kaki ke kaki teman dalam sebuah lingkaran kecil dengan kaki lain bertumpu ditanah dan melakukan gerakan berjalan seperti berjingkat bersama. Masing masing pemain memegang pundak atau tangan pemain lainnya.
4.      Benthik
Permainan ini menggunakan dua batang kayu besar dan kecil. Pemain berusaha mencukil kayu kecil dengan kayu yang agak panjang dari sebuah lubang. Jika pemain lawan tidak bisa menangkapnya, maka berlanjut ke level selanjutnya. Yaitu patil lele.
5.      Jrumpet
Permainan ini bisa dimainkan oleh minimal dua orang, namun jika semakin banyak yang bermain maka akan semakin seru. Cara bermainnya adalah : dimulai dengan hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi kucing (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai sepuluh, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apa saja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi. Setelah hitungan kesepuluh atau hitungan yang telah disepakati bersama dan setelah teman-temannya bersembunyi, mulailah si “kucing” beraksi mencari teman-teman tersebut.
6.      Lumbungan/Dakon
Lumbungan adalah suatu jenis permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan ini digunakan sejenis biji kopi atau kerikil.
7.      Gobak Sodor
Permainan ini adalah permainan grup yang terdiri dari dua grup, dimana masing-masing tim terdiri dari 3-5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan. Permainan ini biasanya dimainkan dilapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segi empat dengan ukuran 9x4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garais batas horisontal dan vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang) maka orang ini mempunyai akses keseluruhan garis batas vertikal yang terletak ditengah lapangan.


II.           BAGAIMANA MENUMBUHKAN KEMBALI PERMAINAN TRADISIONAL YANG SUDAH PUNAH/HAMPIR PUNAH.
Dolanan anak tradisional yang hampir punah diperlukan upaya revitalisasi untuk melestarikan berbagai dolanan anak tersebut , seperti pengenalan ulang berbagai jenis dolanan di sekolah melalui media yang menarik, seperti dalam bentuk compact disc atau modul.
Selain dengan cara itu festival atau lomba dolanan juga perlu diadakan untuk melestarikan dolanan tradisional. Selain untuk melestarikan budaya dolanan tradisional festival atau lomba dolanan tradisional juga bisa sebagai sektor pariwisata.























BAB III
PENUTUP
I.         KESIMPULAN
Pada akhir tulisan ini penulis dapat menarik kesimpulan dan dengan kesimpulan tersebut setidaknya mendapatkan gambaran yang cukup jelas tentang pelbagai macam dolanan anak dan bagaimana cara melestarikan agar dolanan tradisional tersebut tidak punah. Dan dengan kesimpulan tersebut pula setidaknya penulis dapat memberikan beberapa saran yang nantinya semoga dapat dipertimbangkan. Adapun kesimpulan dan saran adalah sebagai berikut :
1.      Dolanan tradisional lebih mengajarkan kebersamaan daripada permainan modern yang lebih individualis.
2.      Dengan festival ataupun  pengenalan dolanan tradisional melalui media-media merupakan cara yang tepat untuk merevitalisasi budaya tradisional dalam bentuk dolanan.

II.           SARAN
Penelitian tentang budaya khususnya dolanan tradisional sebagai postmodernisme perlu digali lebih lanjut agar dolanan tradisional yang merupakan aset kebudayaan tidak punah.














DAFTAR PUSTAKA
Djoko Widagdo, Dkk, 1991. Ilmu Budaya Dasar, Jakarta : Bumi Aksara, http://www.ananswer.org/mac/answeringpluralism.html, diakses 25/12/11
Elmubarok, Zaim dkk,2009. Pengantar Ilmu Kebudayaan.Semarang : Unnes prees.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar