Jumat, 31 Desember 2010

Belajar ikhlas


“Memang cinta harus ikhlas?”
“Bukan hanya cinta tapi hal apapun jika ikhlas akan lebih baik”
“Kamu juga ikhlas jika orang yang kamu sayangi bahagia? walaupun merugikanmu?”
“Mungkin awalnya nggak tapi berusaha untuk ikhlas apa salahnya?”
“Walaupun itu merugikan kamu?”
“Ya,melihat orang yang kita sayangi bahagia walaupun kita dalam keadaan yang tersakiti memang sakit, tapi akan lebih sakit jika kita tidak mengikhlaskannya”
“Memangnya kamu belajar ikhlas dari mana ?”
“Putaran kehidupan yang mengajariku tentang semuanya, termasuk keikhlasan. Kamu masih belum ikhlas jika Dea telah pergi ya?”
“Mungkin, sama seperti kamu ketika kehilangan Rido bukan?”
“Hmmm……entahlah. Jika aku ingin menawarkan sebentuk kasih sayang kepadamu?”
“Sebagai pengganti kasih sayang Dea?”
“Bukan!... Aku ingin menjadi diriku sendiri, jika aku menggantikan Dea itu artinya kamu nggak ikhlas dengan kepergiannya, karena aku masih kau anggap sebagai Dea bukan?”
“Jadi??”
“Aku ingin kamu belajar mengikhlaskan Dea, dan mulai memandang ke depan”
“Dan kau akan selalu menemaniku bukan?”
“Tentu saja, tapi bukan sebagai pengganti Dea!”
“Ya, makasih ya sayang, hari ini aku belajar ikhlas padamu”
               Hendra mencium dahiku sebagai akhir pertemuan malam itu, usia pacaran kami memang baru berapa minggu namun terasa sudah lama sekali aku menjalin hubungan dengan Hendra. Ku sadari jika Hendra belum bisa menerimaku sepenuhnya karena bayang-bayang tentang Dea, mantan kekasihnya masih melekat di pikirannya. Dan aku hadir bukan untuk menjadi pelariannya, aku ingin dia mengikhlaskan Dea dan menerimaku sebagai Arin bukan sebagai Dea.
###


Mungkin aku datang disaat yang tidak tepat waktu itu, Hendra baru saja kehilangan Dea. Dea beralih ke pelukan oranglain dan aku tahu betapa sakitnya rasa itu. Aku pernah merasakan hal yang sama dan butuh waktu berbulan-bulan untuk mengikhlaskan Rido ke pelukan Vera. Lebih dari dua leleki yang pernah kujadikan korban pelarianku, belajar untuk ikhlas memang sulit sekali.
Kali ini aku hadir di samping Hendra untuk menemaninya belajar ikhlas, aku tak mau jika hanya dijadikan sebagai pelarian semata. Bagiku Hendralah yang mampu membantuku untuk mengikhlaskan Rido, dan sekarang aku ingin membalasnya agar Hendra bisa mengikhlaskan Dea.
Awal pertemuan kami memang tidak biasa, jejaring sosial facebook yang mempertemukan kami. Walaupun ternyata Hendra pernah se SMA denganku meskipun itu hanya satu tahun. Hendra yang dulu dikenal dengan master ilmu hitung, nyatanya kini masih seperti dulu. Jurusan teknik kimia yang dipilihnya tidak melenceng dari otaknya.
Hendra Blanked               : Hai…
Arin Manojna                   : Iya
Hendra Blanked               : Kamu lulusan SMA 32 ya?
Arin Manojna                  : Kok tau?
Hendra Blanked               : Iya perasaan dulu pernah liat kamu….
Arin Manojna                   : Emank kamu juga alumni SMA 32 ya?
Hendra Blanked               : Iya, tapi aku cuma setengah tahun disana, kelas satu tog
Arin Manojna                   : Ummb,,,,trus skrg kul mana?
Hendra Blanked               : di Solo, km dmn?
Arin Manojna                   : Q d smrang,  nama asli km cpa to?
Hendra Blanked               : Hendra Ardi Setyawan, km dulu ndak sering ma Nora?
Arin Manojna                   : Iya, kok tau?
Hendra Blanked               : bErarti dulu kita pernah ktemu di kantin pas q ma Alim, km ma Nora..
Arin Manojna                   : Oh,,,kamu si Ardy yang jago matematika itu ya?
Hendra Blanked               : Ah…jangan gitu donk, jadi besar kepala aku.
                                              BTW leh mnta CPmu gag?byar lbih enak ngbrolnya.,,
Arin Manojana                 : CPmu dulu….
Hendra Blanked               : 085643000003, Cp mu??
Arin Manojna                   : 085640207830,MC ya…!!
Hendra Blanked               : ok, q off dlu ya,,
                                              Bye…
Semenjak itu intensitas komunikasi kami tidak hanya lewat fb, namun hampir tiap hari kami smsan,rasanya seperti sudah mengenalnya lama walaupun hanya dari tulisan dan suara. Kurasa dan menyenangkan walaupun agak dingin sepertinya. Menjadikan aku tak sabar untuk segera bertemu dengannya.
10 oktober 2010, tanggal yang cantik secantik hari yang kujalani. Hari itu aku pertama kalinya bertemu dengan Hendra , sosok tinggi, jangkung dan berkulit sawo matang berbeda sekali dengan Rido yang sedikit gempal dan putih. Hari itu juga kami memutuskan untuk menjalin hubungan cinta. Walupun aku tahu Hendra belum sepenuhnya bisa menerima aku, Dea masih membayang-bayangi pikirannya. Seperti yang kukatakan aku tak mau menggantikan Dea dalam pikirannya, aku ingin menjadi sosok baru dalam kehidupan Hendra.
Karena jarak Solo Semarang cukup jauh, maka intensitas pertemuan kami pun tidak sesering ketika aku bersama Rido. Namun karena itu juga tiap kali bertemu rasanya bahagia sekali. “Saling percaya” kurasa hal itulah yang bisa membuat kami tak mudah termakan cemburu.
Hendra memang bukan sosok yang romantis seperti Rido, dia tak pernah menyanyikan sebuah lagu cinta dan memetik gitar saat kita bertemu. Dia juga tak pernah mengajakku nonton bioskop seperti Rido dulu, dia lebih suka mengajakku nonton film action dengan laptop atau DVD. Dia jarang sekali nggombal sehingga kadang membuatku manyun. Dia lebih suka mengajakku ke tanah lapang yang nggak ada bagus-bagusnya sama sekali dibandingkan mengajakku ke pantai. Namun aku bahagia dengan semua itu, kurasa itulah wujud keromantisannya.
###

Kuliah MKU menurutku memang mata kuliah yang sangat menyebalkan, membahas bagaimana hebatnya Indonesia memperebutkan Kemerdekaanya padahal realitanya sekarang Indonesia jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan Jepang yang pada tahun 1945 luluh lantah. “Belum terlalu penting bagi orang sepertiku”,pikirku. Daripada tidur dikelas kurasa lebih baik mengotori blocknote yang selalu menjadi isi tasku. Seperti biasa sketsa wajah orang yang selalu kugambar, entah mengapa aku senang menggambar sketsa wajah seseorang. Karena pada dasarnya ngantuk, gambar  yang kubuat belum selesai pun aku sudah molor.
“Mbak…!!” suara lirih seorang gadis membangunkanku.
“Ehm….iya..” jawabku setengah sadar.
“Udah selesai, keluar yuk..!! mau dipake kelas lain” ajak gadis berperawakan kecil itu.
“Iya,makasih ya udah bangunin..” jawabku sambil memungut blocknoteku yang tadi jatuh.
“Itu ada yang jatuh mbak..!” kata gadis itu mengingatkan.
“Oh….iya..” kuambil kertas putih yang jatuh dan ternyata setelah dibalik fotonya Hendra, kubersihkan foto yang sudah terkena debu itu dengan malu-malu.
“Maaf mbak, itu siapa ya?” kata gadis itu menunjuk ke foto Hendra.
“Hmm… ini foto pacarku koq mbak” jawabku datar.
“Itu..itu Hendra kan!!” kata gadis itu memelototiku membuatku takut.
“Iya, mbak kok tau?” jawabku ketakutan.
“Oh…jadi kamu ceweknya Hendra ya?”katanya lantang membuatku semakin ketakutan.
“Iya”
“Jadi ternyata kau, yang membuat Hendra jadi kaya gitu” gadis itu menyeretku keluar ruangan.
“Tenang dulu mbak..!! aku tak mengerti apa yang mbak maksud, bisa dijelaskan pelan-pelan” kataku berusaha sabar.
“Ya..Hendra adalah mantanku sejak SMA. Semenjak kami putus dia sangat kehilangan aku,dan yang kutahu dia frustasi. Tak berselang lama setelah aku putus dengannya, aku punya pacar lagi, Verry namanya, Hendra tahu kalau aku telah bersama Verry karena Verry tak lain dan tak bukan adalah teman SMA  kami juga. Aku tak tahu persis kapan kejadiannya, yang kutahu Hendra menabrak Verry sehingga Verry luka parah dan kini Verry udah nggak ada. Hal itulah yang membuatku benci dengan Hendra. Dan ternyata kekasih Hendra sekarang ada didepanku..”jelasnya detail.
“Berarti mbak itu Dea ya?” kataku memotong.
“Kamu sudah tahu tentang aku?”
“Ya, Hendra yang menceritakan semuanya. Kurasa Hendra sakit hati karena mbak terlalu cepat menemukan pengganti Hendra” kataku sok bijak.
“Ya..kamu pasti membelanya karena kamu pacarnya!!”
“Dan asal mbak tahu,itu bukan merupakan kapasitas saya, okey makasih mbak  aku masih ada urusan yang lain!” kataku menutup pembicaraan dan meninggalkan Dea.
“Tunggu…!!!”
“Jika masih ingin bicara lain kali temui aku di Bahasa asing”kataku  sedikit mangkel.
Ternyata Hendra menyembunyikan sesuatu dariku, dia nggak pernah bilang jika dia pernah berurusan dengan pacar Dea hingga separah itu. Dan lebih parah lagi Dea ternyata sekampus denganku. Sepulang kuliah Hendra berkali-kali meneleponku dan tak kuangkat sama sekali. Berkali – kali dia sms aku dan tak kubalas satupun, hari itu aku benar-benar terpukul. Rido kembali masuk dalam pikiranku disaat-saat seperti ini, ahhh….ternyata aku pun belum bisa mengikhlaskan Rido sepenuhnya.
Dua hari setelah kejadian itu aku masih ngambek dengan Hendra, walupun semalam teleponnnya kuangkat tapi sms hari ini belum kubalas. Entah mengapa aku merasa dibohongi sekali, aku takut kejadian Rido yang tega membohongi aku ketika mendua dengan Vera terulang kembali. Tiba-tiba Hpq berbunyi, tak disangka sms dari Dea.
Maaf yg kmren, q salah jka ngadu k kmu. Yg slh Hendra bkn km.
DEA?
Dari Dea?? Kok bisa tau nomerku ya? Ah… entahlah mendingan aku tidur aja.
“Rin…!! Ada yang nyariin” panggil mbak kostku hingga aku terbangun.
“Iya mbak..” jawabku setengah sadar sambil berfikir siapa yang mencariku siang-siang begini.
“Hendra..!!!” kaget melihat Hendra telah duduk diteras ruang tamu.
“Iya, ini kan yang kamu mau?”
“Hmm..” jawabku masih tetap manyun.
“Dari solo kapan?”
“Tadi pulang kuliah, jalan yuk!!” ajak Hendra.
“Kemana aja, kamu mau kemana?”
“Pantai ya!!” jawabku sedikit merengek.
“Iya, “
Hari yang special, aku bisa ke pantai bersama Hendra, tak hanya itu dia juga membawa kado kecil buatku sebagai rasa maaf katanya. Setelah ku buka ternyata isinya Cuma pemotong kuku, senyumku hilang berganti dengan manyun.
“Tahu nggak kenapa aku kasih itu?”
“Enggak, cuma gini doank juga”
“ Artinya kamu harus rajin memotong kuku sayang, tu lihat kukumu panjang-panjang banget”.
“Jahat”
“Kok jahat?”
“Iya, masa ngasih cuma kaya gini doank”
“Yang penting keikhlasan kan?”
“Trus Dea gimana?”
“Udah baik-baik aja, tadi aku udah nemuin dia. Dan orang terjelek yang ada disampingku ini dapat salam”
“Salam balik, tapi jangan orang terjelek”
“Trus?”
“Termanis donk”
“Tapi cium dulu!!”
“Nggak mau”
“Nggak jadi termanis kalau gitu”
“Muach…..”
“Gitu dong, jadi manis sekarang”
“Sayang sama aku?”
“Kok masih tanya?”
“Sayang nggak?”
“Sayang dong”
“Ikhlas?”
“Ikhlas, pokoknya Hendra sayang sama Arin”
“He,,,he,,,”
Terimakasih Tuhan, aku sekarang bisa tersenyum lagi bersama Hendra. Aku telah mengikhlaskan Rido dan Hendra telah mengikhlaskan Dea. Kami juga sama-sama ikhlas menyayangi. Terimakasih Tuhan.