»

Selasa, 17 Januari 2012

Makalah KENDALA DAN GANGGUAN KETERLAMBATAN BICARA PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH


 


KENDALA DAN GANGGUAN KETERLAMBATAN BICARA PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Psikolinguistik
Dosen Pengampu: Drs. Widodo




 Oleh :
Asih Setyarini        (2601409073)
Rombel  1

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA JAWA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 8 sampai 10% anak-anak usia pra sekolah dan lebih cenderung dialami anak laki-laki daripada perempuan.
Di awal usia batita, anak mulai mampu mengucapkan kata yang memiliki makna. Meski kebanyakan kata tersebut masih sulit dipahami karena artikulasi (pengucapannya) masih belum baik. Perlu diketahui kemampuan batita dalam berbicara dipengaruhi kematangan oral motor (organ-organ mulut). Sementara kemampuan yang menunjang perkembangan bahasa diantaranya kemampuan mendengar, artikulasi, fisik (perkembangan otak dan alat bicara), dan lingkungan.

B.     PERMASALAHAN
Dari latar belakang di atas kemudian timbul pertanyaan sebagai pokok permasalahan yaitu:
1.      Apa saja yang menyebabkan keterlambatan bicara pada anak ?
2.      Bagaimana bentuk-bentuk bicara atau pengucapan anak?
3.      Bagaimana cara mengatasi gangguan bicara pada anak?





BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENYEBAB KETERLAMBATAN BICARA PADA ANAK
Ada beberapa faktor yang menyebabkan keterlambatan bicara pada anak, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Hambatan pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebanya adalah karena infeksi telinga.
2.      Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab mebghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi rangsang tertentu.
3.      Masalah keturunan
Sejauh ini masalah keturunan belum dapat diteliti korelasinya dengan etologi dari hambatan pendengaran. Namun, pada beberpa kasus dimana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
4.      Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anaklah yang juga membuat si anak tidak banyak mempunyai perbendaharaan kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekalipun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu patah dua patah kata saja yang isinya intruksi atau jawaban yang sangat singkat.
Anak-anak yang diasuh oleh orangtua/pengasuh yang pendiam sering kali jadi kurang terstimulasi. Begitu juga anak-anak yang setiap hari kegiatannya hanya menonton tv. Anak- pun, misalnya hanya menunjuk-nunjuk, sudah mendapatkan apa yang diinginkan.
5.      Adanya keterbatasan fisik
Adanya keterbatasan fisik seperti pendengaran kurang sempurna, bibir sumbing dan sebagainya juga bisa merupakan penyebab keterlambatan bicara pada anak.
6.      Faktor televisi
Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak batita merupakan faktor yang membuat anak menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi adegan yang disuguhkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak bahkan sebernarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, ataupun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/ orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak akan mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.
B.            BENTUK-BENTUK BICARA ATAU PENGUCAPAN ANAK
1.      Babbling
Sebagian anak diawal usia batita, melakukan babbling, yaitu mengeluarkan suara berupa satu suku kata, seperti “ma..” atau “ba..”. namun  itu masih belum bermakna.
2.      Bahasa planet
Contoh saat meminta sesuatu dia hanya menunjuk sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang dewasa atau sekedar menggunakan bahasa tubuh.
3.      Sepotong-sepotong
Kemampuan untuk menangkap, mencerna, dan mengeluarkan apa yang ingin diucapkan masih dalamtahapbelajar.wajar kalau pengucapan masih sering tersendat-sendat/ sepotong sepotong hanyapada bagian akhir kata. Misalnya “minta” jadi “ta”
4.      Sulit mengucapkan huruf/ suku kata
Misalnya kata mobil disebut mobing atau toko menjadi toto. Pengucapan seperti ini akan menjadi sulit ditangkap artinya. Biasanya kendala ini akan hilang dengan bertambahnya usia.
5.      Terbalik-balik
Misalnya si anak mau mengucapkan “Arep ndherek ning pasar” tetapi yang diucapkan “ pacang ayep yeyek” dan sebagainya. Ini tentu saja membingungkan dan kadang sulit dipahami dengan yang diajak bicara.
6.      Cadel
Cadel bisa karena kelainan fisiologis, misalnya lidahnya pendek, tak punya ank tekak, atau langit-langitnya cekung. Untuk menanganinya tentu harusdikonsultasikan dengan dokter.
7.      Salah makna kata/ kalimat
Meskipun anak sudah bisa mengucapkan kata-kata menjadi kalimat. Namun masih sering terjadi salah makna.
8.      Gagap
Gagap (stuttering) pada masa batita dianggap normal karena masih belajar mengembangkan ketrampilan dan kemampuan bicara.
C.           CARA MENGATASI GANGGUAN BICARA PADA ANAK
Ada keterlambatan bicara yang masih bisa diupayakan sendiri oleh orangtua, tapi ada juga yang harus melibatkan ahli.
1.      Keterlambatan yang bisa diatasi sendiri
a.       Menyebut nama-nama angota tubuh.
b.      Ketika anak bicara tidak jelas tetapi kita mengerti apa maksudnya
c.       Mengucapkan nama benda yang digunakan sehari-hari dengan cara terus mengulang.
d.      Ketika seharusnya anak sudah bisa mengucapkan 2-3 kata dalam satu kalimat tapi ia hanya mengucapkan 1 kata.
e.       Jika ada konsonan-konsonan yang masih sulit diucapkannya di usia 12-18 bulan, beri kesempatan untuk terus mengulanginya.
2.      Keterlambatan yang harus melibatkan ahli
a.       Sampai usia 12 bulan sama sekali belum bisa babling
b.      Sampai usia 18 bulan belum ada kata pertama yang cukup jelas, padahal sudah dirangsang dengan berbagai cara
c.       Terlihat kesulitan mengucapkan beberapa konsonan
d.      Seperti tidak memahami kata-kata yang kita ucapkan
e.       Terlihat berusaha sangat keras untuk mengatakan sesuatu, misalnya sampai ngeces atau raut muka berubah.








BAB III
PENUTUP
A.           KESIMPULAN DAN SARAN
Pada akhir tulisan ini penulis dapat menarik kesimpulan dan dengan kesimpulan tersebut setidaknya mendapatkan gambaran yang cukup jelas tentang keterlambatan bicara pada anak usia pra sekolah. Dan dengan kesimpulan tersebut pula setidaknya penulis dapat memberikan beberapa saran yang nantinya semoga dapat dipertimbangkan. Adapun kesimpulan dan saran adalah sebagai berikut :
1.      Peran serta orang tua sangat dibutuhkan agar anak tidak mengalami gangguan berbicara
2.      Lingkungan yang mendukung juga akan mendukung anak untuk tidak mengalami gangguan bicara


















DAFTAR PUSTAKA
Chaer.Abdul. 2003. Psikolinguistk Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.
O.I,Lovaas, Teaching Developmentally Disabled Children: The ME Book, Pro-ed, 1981.
e-psikologi.com
http://www.halamansatu.net/index.php?option  content&task=view&id=144&ltemid=51 diakses tanggal 29 Desember 2011
http://www.ibudananak.com/index.php?option=com news&task=view&id=342&itemid=19 diakses tanggal 29 Desember 2011






0 komentar:

Poskan Komentar