Kamis, 30 Juni 2011

Tugas Akhir Pengkajian Puisi Jawa Tradisional

Analisis Geguritan karya J.F.X.Hoery

Mata Kuliah : Pengkajian Puisi Jawa Tradisional
Dosen Pengampu : Yusro Edy Nugroho






Disusun Oleh :

Asih Setyarini (2601409073)



FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011




PENDAHULUAN

J.F.X.Hoery adalah seorang penulis Indonesia yang lahir di Pacitan, Jawa Timur pada tanggal 7 Agustus 1945.. Sejak tahun 1962 beliau pindah ke Bojonegoro dan menetap disana hingga sekarang. Karya-karyanya berupa ceritera pendek, cerita sambung, cerita rakyat, cerita misteri, roman sejarah, reportase dan geguritan banyak dimuat di majalah-majalah berbahasa Jawa yang terbit dari tahun 1971 hingga sekarang. Tulisan pertama beliau yang dimuat di majalah dimuat tahun 1960 dalam majalah Taman Putra Panyebar Semangat.
Dalam jagat jurnalistik, terutama bahasa Jawa, nama J.F.X. Hoery sudah tidak asing lagi. Dia dikenal sebagai seorang sastrawan Jawa yang kini mulai langka. Banyak hasil karangannya telah diterbitkan dalam bentuk buku, antara lain Lintang-lintang Abyor, Langit Jakarta, dan buku cerita anak dengan judul Permaisuri yang Cerdik dan Sosiawan-sosiawan Kecil.
Sebagian besar karya Hoery ditulis dalam bahasa Jawa, baik berupa geguritan (puisi) atau kumpulan cerita cekak (cerita pendek), yang dimuat di sejumlah media seperti Penjebar Semangat, Joyo Boyo, Joko Lodang, Dharma Nyata, Dharma Kanda, Parikesit, Pustaka Candra, Praba, Damar Jati, dan harian Suara Merdeka di Semarang.
Boleh dibilang, di antara sejumlah nama besar sastrawan Jawa di Jawa Timur, Hoery termasuk salah satu sastrawan yang produktif. Hingga 2006, Hoery sudah menghasilkan sekitar 100 cerita cekak dan sekitar 350 geguritan. Bahkan, pada 2004, buku Pagelaran, kumpulan geguritan Hoery, juga mendapatkan hadiah Rancage, penghargaan paling bergengsi untuk sastra daerah.
Berkat upaya menguri-uri (merawat) sastra Jawa ini, Hoery kerap menjadi narasumber penelitian dari para mahasiswa dan dosen dari sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Negeri Semarang dan Universitas Negeri Surabaya. Bahkan, salah seorang peneliti dari Universitas Canberra, Australia, George Quinn, juga pernah meneliti karya Hoery.
Proses kreatif Hoery sebagai sastrawan diawali pada 1960, saat tulisannya (cerita anak) di rubrik Taman Putra di majalah Penjebar Semangat. Kegiatan menulis ini tak lepas dari lingkungan masa kecilnya yang kental dengan tradisi Jawa seperti kegiatan macapat (menyanyi Jawa). Dari pergaulannya dengan tradisi ini, pada l969 hingga kini Hoery terus mengembangkan kemampuannya dalam menulis geguritan dan cerita pendek.Karya-karyanya adalah sebagai berikut :
• Pagelaran, kumpulan geguritan.
• Lintang Abyor, antologi.
• Kabar saka Tlatah Jati, antologi.
• Banjire Wis Surut, kumpulan cerita pendek.
• Blangkon, kumpulan cerita pendek bersama penulis Bojonegoro
• Bojonegoro Ing Gurit, kumpulan geguritan bersama penggurit Bojonegoro.
• Sosiawan-Sosiawan Kecil, kumpulan crita anak-anak.
• Permaisuri Yang Cerdik, crita anak-anak
• Sejarah Gereja Cepu (buku), bersama tim penulis sejarah gereja Cepu.
• Sejarah Gereja Katolik Rembang (buku)
• Sejarah Gereja Katolik Blora (buku)
• Sejarah Gereja Katolik Bojonegoro (buku)
• Sejarah Gereja Katolik Tuban (buku)






















LANDASAN TEORI

1. Teori Kaji Makna (Parafrase)
Teori ini hampir sama dengan memparafrasekan puisi. Sebelum kita berani dengan lantang untuk membacakan geguritan, terlebih dahulu kita harus mengetahui makna yang terdapat dalam geguritan itu, baik makna kata perkata atau makna secara keseluruhan yang menjadi isis hati atau tujuan pengarang menulis geguritan. Dalam teori kaji makna ini kita harus mengetahui secara pasti makna kata-kata yang ada dalam geguritan tersebut, terlebih kata-kata yang kedengarannya asing dan jarang dipakai oleh masyarakat umum.
Tak jarang pula kata-kata yang tertera mengandung suatu maksud tertentu yang berlainan dengan makna yang lazim, atau dengan kata lain bermakna konotasi. Sehingga kita juga harus bisa menelisik maksud yang sesungguhnya. Hal ini bisa dilakukan dengan mengartikan kata-kata sukar lalu mencari makna secara global dari paduan kata-kata yang tertera pada tiap bait. Lalu memadukan makna di tiap-tiap bait menjadi satu kesatuan makna yang utuh. Setelah kita memahami makna yang terkandung dalam geguritan tersebut maka bisa dipastikan kita akan bisa mengapresiasi dan membacakannya dengan baik dan benar, selain itu tak kalah penting juga kita bisa membuat audiens mengerti dan bisa menggambarkan jan-jane apa to maksude geguritan kuwi.
2. Teori imajinasi/ imajinatif/ membayangkan
Yang dimaksud adalah kita membayangkan kata-kata atau tembung-tembung yang terdapat dalam bait-bait geguritan tersebut menjadi suatu suasana dengan setting tempat dan waktu yang tepat. Dengan cara ini kita akan lebih bisa merasakan isi geguritan itu dan lebih bisa membawa audiens untuk masuk dalam suasana yang kita bayangkan. Teori ini dilakukan setelah kita menguasai teori yang pertama.
3. Teori penjedaan
Teori penjedaan bermakna pula teori pemberian jeda. Ada beberapa kata dalam geguritan yang memang harus mendapat perhatian khusus karena sifat keambiguannya. Salah satu solusinya adalah dengan pemberian jeda / pedhotan yang tepat agar tidak terjadi ambiguisitas/ kerancuan/ salah tafsir dan bahkan kesalahan dalam pemberian makna.
4. Teori penelisikan simbol kata
Simbol kata adalah suatu kata yang menggambarkan atau menyimbolkan sesuatu, jadi kata ini tidak bermakna yang sebenarnya karena memang sengaja dipilih oleh penyair untuk menggambarkan maksud tertentu. Maksud ini adalah maksud terselubung dan harus dipahami secara lebih mendalam.
5. Teori tanda bunyi
Untuk memperoleh pengapreasian yang maksimal dari suatu geguritan, dapat dilakukan dengan mencermati setiap tangda bunyi yang ada dalam tiap baris geguritan. Karena tanda tersebut menyimpan makna tertentu.
6. Pengkajian Model Semiotik Puisi

a. Analisis Aspek Sintaksis
Teori Semiotika
Semiotika adalah ilmu tentang tanda, cara kerjanya, penggunaannya, dan apa yang kita lakukan dengannya ( Zaimar, 1990; Zoest, 1993 ). Menurut Zaimar (1991), analisis semiotik terhadap karya sastra sebaiknya dimulai dengan analisis bahasa dan menggunakan langkah-langkah seperti dalam tataran linguistik wacana. Langkah pertama adalah dengan menganalisis aspek sintaksis. Dalam puisi analisis aspek sintaksis dapat berupa analisis satuan linguistik. Adapun yang dijadikan pedoman analisis dalam tulisan ini adalah Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dan Pedoman EYD. Langkah kedua adalah dengan menganalisis aspek semantik. Analisis aspek semantik dalam puisi dapat berupa analisis denotasi, konotasi, majas, dan isotopi
b. Analisis aspek semantik
Dalam menganalisis aspek semantik, pertama-tama akan dilakukan analisis komponen makna kata yang terdapat dalam puisi. Kemudian, analisis dilanjutkan dengan penemuan isotopi untuk sampai pada penemuan motif sehingga dengan demikian, tema puisi kemungkinkan besar dapat ditemukan.
c. Analisis aspek pragmatik
Dalam puisi itu terdapat dua pronomina persona, yaitu aku dan kau. Pronomina persona itu dapat memberikan petunjuk kepada kita bahwa dalam puisi itu terdapat dua subjek komunikasi.
7. Rima
Rima adalah perulangan bunyi yang sama dalam puisi yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi.
• Macam-macam Rima
a. Rima berdasarkan bunyi
1. Rima Sempurna
Seluruh suku akhirnya berirama sama.
2. Rima Tak Sempurna
Hanya sebagian suku akhir yang sama.
3. Rima Mutlak
Seluruh kata berima.
Kata jua yang diulang dua kali pada tempat yang sama itu berima mutlak.
4. Rima Terbuka
Yang berima adalah suku akhir suku terbuka dengan vokal yang sama.
5. Rima Tertutup
Yang berima itu suku akhir suku tertutup dengan vokal yang diikuti konsonan yang sama.
6. Rima Aliterasi
Yang berima adalah bunyi-bunyi awal pada tiap-tiap kata yang sebaris, maupun pada baris-baris berlainan.
7. Rima Asonansi
Yang berima adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata, baik pada satu baris maupun pada baris-baris berlainan.
8. Rima Disonansi
Rima ini adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata seperti pada asonansi tetapi memberikan kesan bunyi-bunyi yang berlawanan.
b. Rima berdasarkan letak kata-kata dalam baris
1. Rima Awal
Apabila kata-kata yang berima terdapat pada awal-awal kata.
2. Rima Tengah
Apabila kata-kata yang berima terletak di tengah.
3. Rima Akhir
Apabila kata-kata yang berima terletak pada akhir. Bentuk ini banyak digunakan dalam bentuk Pantun, Syair dan Gurindam.
4. Rima Tegak
Apabila kata-kata yang berima terdapat pada baris-baris yang berlainan.
5. Rima Datar
Apabila rima kata-kata yang berima itu terdapat pada baris yang sama.
6. Rima Sejajar
Apabila sepatah kata dipakai berulang-ulang dalam kalimat yang beruntun.
7. Rima Berpeluk (Rima Berpaut)
Apabila umpamanya baris pertama berima dengan baris keempat, baris kedua berima dengan baris ketiga. Rima ini terletak pada bentuk Soneta dengan rima a – b – b – a.
8. Rima Bersilang (Rima Salib)
Rima yang letaknya berselang-selang. Misalnya baris pertama berima dengan baris ketiga, dan baris kedua berima dengan baris keempat. Rima ini dapat kita jumpai dalam bentuk Pantun yang berrumus a – b – a – b.
9. Rima Rangkai
Apabila kata-kata yang berima terdapat pada kalimat-kalimat yang beruntun. Bentuk ini dapat kita jumpai dalam bentuk syair dengan rumusnya a – a – a – a ; b – b – b –b.
10. Rima Kembar
Apabila kalimat yang beruntun dua-dua berima sama. Misalnya dengan abjad a – a – b – b atau c – c – d – d – e – e dan seterusnya.
11. Rima Patah
Apabila dalam bait-bait puisi ada kata yang tidak berima sedangkan kata-kata lain pada tempat yang sama di baris-baris lain memilikinya. Rumus rima patah adalah a – a – b – a atau b – c – b – b.
12. Rima Merdeka
Tidak ada yang bersajak.




HASIL PENELITIAN

Geguritan 1

ING MBURINE MEJA REDAKSI

Ing mburine meja redaksi
Kursi jengki ngadep laci
Tok,...thok,...thok....
Swara lawang kathothok
Permisi pak redaktur
Iki pawarta korupsi lan wong antri
Apa bisa lolos koreksi?

Ing mburine meja redaksi
Kranjang sampah mblasah naskah
Tik-tik-tik-tik....
Swara mesin ketik
Hallo redaksi
Iki piagam lan medhali
Marga koranmu nglegakake ati

Ing mburine meja redaksi
Apa isih lagi mawas dhiri
Apa sesuk isih perlu ngrakit gurit
Apa trima banjur sowang-sowang
Sawise ketemu kadang lan rowang
Becik mbukak lemari lan arsip
Banjur pamit sakdurunge ana kemit
Losarang-Indramayu,1978
Jayabaya, 1968
Pokok pikiran geguritan ini adalah penggambaran suasana di sebuah redaktur. Pokok pikiran tersebut dijalin dalam untaian-untaian berikut ini.
Si pengarang menggambarkan ruang redaksi yang ada meja dan kursinya, kemudian ada wartawan datang membawa berita tentang korupsi dan bertanya apakah berita tersebut bisa lolos dan diterbitkan.(bait 1)
Si pengarang kembali menggambarkan ruang redaksi yang identik dengan sampah-sampah kertas dan swara mesin ketik. Dan kembali datang orang yang memberikan penghargaan kepada korannya karena memberitakan kabar yang baik dalam artian berita yang dibawa wartawan(bait 1) tidak diterbitkan oleh koran tersebut. (bait 2).
Sipengarang menggambarkan orang yang ada di belakang meja redaksi yang santai-santai saja karena korannya sudah mendapatkan penghargaan, dan alangkah lebik baiknya jika membuka kembali arsip-arsip dan kembali bekerja.
Dalam geguritan ini mengkritik para jurnalis(jaman dulu) yang masih belum berani memberitakan berita-berita tentang korupsi dan kebobrokan negara.
Secara semiotik , dalam geguritan ini benar-benar menggunakan pilihan kata yang bagus dan memberikan efek suasana, seperti pada “kranjang sampah mblasah naskah”, bunyi ah menggambarkan suasana yang sumpek dan berantakan. Setiap awal bait diawali dengan kalimat yang sama “ing mburine meja redaksi” menegaskan bahwa settingnya tetap di ruang redaksi walaupun konfliknya berbeda-beda.
Rima yang digunakan adlah rima tak sempurna dan berdasarkan letaknya adalah rima diakhir.

Geguritan 2
DONGENG

Yen mung trima arep sesorah
Ing ngomah wis turah-turah
Yen mung trima arep pidhato,
Ing kene wis ora ana sing bodho
Yen mung trima arep janji
Kabeh wis mblenger ing ati
Banjur arep apa maneh
Yen kabeh-kabeh wis padha waleh
Simbah nate ndongengi wayahe
Nalika wiwit mapan turu sore
Thothok Kerot lan Kleting Kuning,
Raden Panji lan Dewi Sekartaji, nganti
Rembulan kang entek dicaplok buta Ijo
-wis cung, wuk, ndang bubuk
dongenge wis suwuk
dibaleni maneh sesuk-
simbah meneng mungkasi critane, sedhela
wis nglimpe putu-putune nglepus dhewe
esuke sumebar kabar sing durung cetha sumbere
Thothok Kerot dhek bengi andum komisi
Kleting Kuning kelangan sada lanange
Raden Panji emoh keri, melu atur upeti
Dewi Sekartaji nangis nggendong bayi nagih janji
Hore,...hore,...keploke Buta Ijo
Nalika weruh rembulan sing diuntal metu maneh
Kenthong gejog mung kari jare-jarene
Simbah wis ora mbaleni dongenge
Marga wis ana kasete
Padangan-Bojonegoro,1989
Geguritan ini dibuka dengan nasehat yang sedikit ada kesan keras,kemudian pengarang menceritakan bagaimana dulu ketika kecil sering didongengkan oleh neneknya sebelum tidur, namun sekarang sudah ada kaset sehingga tidak ada lagi dongeng yang diceritakan.
Pada bait pertama pengarang membuat bentuk zigzag yang menandakan pertentangan setiap barisnya.
Yen mung trima arep sesorah (menyuruh namun mengentengkan)
Ing omah wis turah-turah (mengentengkan perintah diatas dan seolah-olah menentang)
Secara semiotik, disini pengarang menceritakan pengalamannya waktu kecil namun mengggunakan sudut pandang orang ke dua dan tidak begitu jelas ditujukan kepada siapa.
Berdasarkan bunyinya rima yang terkandung dalam geguritan tersebut adalah rima tak sempurna, yaitu sebagian saja suku akhir yang sama dan berdasarkan letaknya termasuk rima kembar.
Secara keseluruhan geguritan ini bagus dengan ditunjang tipografi zigzag.







Geguritan 3

YERUSALEM

Ing kene biyen ketemu tangan sesalaman
Ing kene saiki ketemu tangan kepel-kepelan
Ing kene biyen ketemu mripat pandeng-pandengan
Ing kene saiki ketemu mripat penthelengan
Ing kene biyen ketemu ati esem-eseman
Ing kene saiki ketemu ati cecongkrahan
Ing kene biyen ketemu Injil lan Al Qur’an
Ing kene saiki ketemu prajurit lan kuburan
Ing kene Yerusalem, Yerusalem
Ing kene ora bisa dimangerteni
Antarane biyen lan saiki
Kamangka Gusti mung siji
Biyen lan saiki!
Kadanghaur-Indramayu
Ngadepake paskah 1977
Dharma Nyata, No 310, Minggu IV Mei 1977
Geguritan ini menggambarkan Yerusalem biyen (dahulu) dan saiki (sekarang) yang sangat kontras sekali keadaanya.
Ing kene biyen ketemu tangan sesalaman
Ing kene saiki ketemu tangan kepel-kepelan
Ing kene biyen ketemu mripat pandeng-pandengan
Ing kene saiki ketemu mripat penthelengan
Ing kene biyen ketemu ati esem-eseman
Ing kene saiki ketemu ati cecongkrahan
Ing kene biyen ketemu Injil lan Al Qur’an
Ing kene saiki ketemu prajurit lan kuburan
Pada setiap awal kalimat pada baris pertama hingga baris kedelapan diawali kata ing kene dan ada pertentangan antara baris ganjil dan genap. Judul yang digunakan adalah setting dari geguritan itu sendiri.
Geguritan ini menceritakan keadaan Yerusalem yang dulu damai sekarang rusuh, suasana yang sangat kontras. Namun hanya satu yang tidak berubah yaitu Tuhan, tetap ada dulu dan sekarang (dua baris terakhir).

Geguritan 4

DONGA WENGI

Senajan ta iki dudu kang pungkasan
Nanging apa salahe nyeleh ati
Ing pangkoning lintang wengi
Nglereh tibane rasa pangrasa
Ing pethitinh langit
Banjur silem
Ing kedunging tlagaMU
Padangan-Bojonegoro
Akhir taun 1988
Panjebar Semangat, No.9, tgl 25 Februari 1989
Dalam geguritan ini,pengarang menceritakan tentang do’a malam. Walaupun bukan yang terakhir, namun apa salahnya berdoa kepada Yang Mahakuasa. Geguritan pendek ini mengandung nasehat bahwa berdoa dimalam hari itu sangat baik sebelum engakau diambil nyawanya. Disini Tuhan diantropomorfkan sebagai manusia, dikiaskan sebagai lintang wengi adalah salah satu cara untuk membuat pathos, yaitu menimbulkan simpati dan empati kepada pembaca hingga ia bersatu mesra dengan obyeknya(Budi Darma, 1982:112) hingga pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan penyairnya.
Geguritan ini sederhana namun sulit diparafrasekan, sedikit mengandungkata arkhais seperti “silem”. Dan menggunakan majas metafora seperti pada ”pangkoning lintang wengi”.



Geguritan 5

KARANGPACAR

Nalika ati wiwit midak latar
Sprei masem wis ginelar
Antarane prawan jumagar lan randha lanjar
Apa esem kang kawetu ora palsu?

Sing teka numpak honda plat abang
Sijine lunga seragam premanan
Ing kene ora tinemu naskah srah-srahan
Padha sowang-sowang

Hakekat lan martabat
Ora bakal gelem mertobat
Sing teka, sing lunga lan sing dhasar
Nguyak impen ngisi kasepen
Padangan-Bojonegoro,1975
Panjebar Semangat, No 21, tgl 24 Mei 1975
Pokok pikiran dalam geguritan ini adalah penggambaran suasana di lokalisasi.
Pada bait pertama diceritakan ketika pertama datang ke lokalisasi sudah tersedia tempat tidur dan pilihan antara gadis dan janda yang berjejer. Bait kedua menceritakan bahwa yang datang dilokalisasi itu berbeda-beda dari pejabat (honda plat abang) hingga preman. Bait ketiga sekaligus penutup bahwa keadaan tersebut tidak akan berubah, tidak akan ada tobat karena yang datang dan pergi pun berganti-ganti terus untuk mengejar mimpi yang maya.
Banyak makna konotatif yang terkandung dalam geguritan tersebut seperti :
honda plat abang : pejabat
sprei mesem wis ginelar : tempat tidur sudah tersedia
personofikasi : nguyak impen ngisi kasepen(bait ketiga) menggambarkan secara nyata hal yang tidak bisa divisualisasikan.
Secara semiotik hubungan antara bait satu dengan lainnya adalah hubungan maju namun dengan pokok pikiran yang berbeda setiap baitnya. Dari ketiga bait tersebut menceritakan setting yang sama dengan alur maju.























SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa geguritan karya J.F.X.Hoery lebih menegaskan kepada settingnya, setting-setting dalam geguritan ini jelas, kata arkhais tidak begitu banyak sehingga mudah dipahami, namun terkadang bahasa yang membingungkan sulit untuk memparafrasekan geguritan tersebut.
Rima yang digunakan dalam geguritan-geguritan karya J.F.X.Hoery juga menarik, kata-kata yang dipilih benar-benar memperhatikan rima sehingga memunculkan kesan keindahan.




















DAFTAR PUSTAKA
Aspahani, Hasan “Aliterasi hingga Asonansi” (Online)http://sejuta-puisi.blogspot.com/2004/07/kelas-puisi-2-aliterasi-hingga.html (diakses 13 Juni 2011)
Bojonegoro, Sastra. “RANCAGE "Pagelaran" JFX. Hoery” (Online) http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/2010/10/rancage-pagelaran-jfx-hoery_14.html (diakses 12 Juni 2011).
Darma, Budi. 1982. “Moral dan Sastra”. Basis. Maret XXX-3.
Hermawan,SriSutyoko“PesonaSainsdalamFiksi” (Online)
http://id.wikipedia.org/wiki/J._F._X._Hoery.
Hoery, J.F.X. 2003. Pagelaran. Jogjakarta: Narasi.
Khalid, Umar. “Pengkajian Puisi” (Online) http://www.sastra33.co.cc/2010/06/pengkajian-puisi.html (diakses 13 Juni 2011).
Tuhu Kristanti, Pangestika. “Teori-Teori untuk Memahami atau Mengapresiasi Geguritan” (Online) http://pangestikatuhukristanti.blogspot.com/2010/03/tugas-pengkajian-puisi-jawa-modern.html (diakses 12 Juni 2011).
Rosyid, Abdur “Rima dalam Puisi” (Online) http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/07/28/rima-dalam-puisi/ (diakses 14 Juni 2011).










LAMPIRAN
1. Puisi yang dianalisis

ING MBURINE MEJA REDAKSI

Ing mburine meja redaksi
Kursi jengki ngadep laci
Tok,...thok,...thok....
Swara lawang kathothok
Permisi pak redaktur
Iki pawarta korupsi lan wong antri
Apa bisa lolos koreksi?

Ing mburine meja redaksi
Kranjang sampah mblasah naskah
Tik-tik-tik-tik....
Swara mesin ketik
Hallo redaksi
Iki piagam lan medhali
Marga koranmu nglegakake ati

Ing mburine meja redaksi
Apa isih lagi mawas dhiri
Apa sesuk isih perlu ngrakit gurit
Apa trima banjur sowang-sowang
Sawise ketemu kadang lan rowang
Becik mbukak lemari lan arsip
Banjur pamit sakdurunge ana kemit
Losarang-Indramayu,1978
Jayabaya, 1968




DONGENG

Yen mung trima arep sesorah
Ing ngomah wis turah-turah
Yen mung trima arep pidhato,
Ing kene wis ora ana sing bodho
Yen mung trima arep janji
Kabeh wis mblenger ing ati
Banjur arep apa maneh
Yen kabeh-kabeh wis padha waleh
Simbah nate ndongengi wayahe
Nalika wiwit mapan turu sore
Thothok Kerot lan Kleting Kuning,
Raden Panji lan Dewi Sekartaji, nganti
Rembulan kang entek dicaplok buta Ijo
-wis cung, wuk, ndang bubuk
dongenge wis suwuk
dibaleni maneh sesuk-
simbah meneng mungkasi critane, sedhela
wis nglimpe putu-putune nglepus dhewe
esuke sumebar kabar sing durung cetha sumbere
Thothok Kerot dhek bengi andum komisi
Kleting Kuning kelangan sada lanange
Raden Panji emoh keri, melu atur upeti
Dewi Sekartaji nangis nggendong bayi nagih janji
Hore,...hore,...keploke Buta Ijo
Nalika weruh rembulan sing diuntal metu maneh
Kenthong gejog mung kari jare-jarene
Simbah wis ora mbaleni dongenge
Marga wis ana kasete
Padangan-Bojonegoro,1989




YERUSALEM

Ing kene biyen ketemu tangan sesalaman
Ing kene saiki ketemu tangan kepel-kepelan
Ing kene biyen ketemu mripat pandeng-pandengan
Ing kene saiki ketemu mripat penthelengan
Ing kene biyen ketemu ati esem-eseman
Ing kene saiki ketemu ati cecongkrahan
Ing kene biyen ketemu Injil lan Al Qur’an
Ing kene saiki ketemu prajurit lan kuburan
Ing kene Yerusalem, Yerusalem
Ing kene ora bisa dimangerteni
Antarane biyen lan saiki
Kamangka Gusti mung siji
Biyen lan saiki!
Kadanghaur-Indramayu
Ngadepake paskah 1977
Dharma Nyata, No 310, Minggu IV Mei 1977


DONGA WENGI

Senajan ta iki dudu kang pungkasan
Nanging apa salahe nyeleh ati
Ing pangkoning lintang wengi
Nglereh tibane rasa pangrasa
Ing pethitinh langit
Banjur silem
Ing kedunging tlagaMU
Padangan-Bojonegoro
Akhir taun 1988
Panjebar Semangat, No.9, tgl 25 Februari 1989

KARANGPACAR

Nalika ati wiwit midak latar
Sprei masem wis ginelar
Antarane prawan jumagar lan randha lanjar
Apa esem kang kawetu ora palsu?

Sing teka numpak honda plat abang
Sijine lunga seragam premanan
Ing kene ora tinemu naskah srah-srahan
Padha sowang-sowang

Hakekat lan martabat
Ora bakal gelem mertobat
Sing teka, sing lunga lan sing dhasar
Nguyak impen ngisi kasepen
Padangan-Bojonegoro,1975
Panjebar Semangat, No 21, tgl 24 Mei 1975




2. Puisi karya sendiri

Dadi Raja
Dadi raja
Kudune gawe rakyate minulya
Ora kena gawe lelara
Ora kena durjana
Apa maneh gawe bencana

Dadi raja
Aja kaya puntadewa
Rajane numpak mercy
Rakyate dadi TKI

Dadi raja
Kayata pandudewanata
Rajane mulya
Rakyate sengsara
Semarang, 14 Maret 2011

Kedung balung

Sih lan tresnaku kanggo kowe
Ora mung kanggo sakminggu
Ora minggu iki,
Ora minggu wingi
Mung wewayanganmu sing tak golek
Ing layang-layangmu
Tak waca bola-bali
Bola-bali tak waca
Bola-bali tak anyari pandongaku
Kanggo kowe
Kanggo saiki tekan mbesuke
Kanggo kowe sing ana ing kedung balungku
Semarang,Januari 2011













Gambar Kembar

Kembar gambare
Gambarane wong kembar
Kaya jambe sinigar
Kembar tengen kiwane sing dikarep ya ijen
Becik ya ijen becike
Lembah manah ya ijen lembah manahe
Ora mung kembar sakpada watone
Mung kaya gambar kembar
Mung kembar gambare
Ora tinuku lathine
Ora diumbar simbare
Kaleme kalem watu gunungdigdaya nalika ngglundung
Najan meneng uga digadya
Meneng anteng sinanding dupa

Semarang, Januari 2011















Udan
Mesti tak enteni kowe,
Saben wayah kaya ngene
Saya gedhe swaramu saya banter anggonku crita
Saya akeh angin kang mbok gawa saya greget anggonku ngadu pikir
Aku isa crita ya mung karo kowe
Sanajan kowe ora tau semaur
Kowe ngerti apa kang dadi rerasanku
Seprana-seprene aku mung bisa crita marang kowe
Akehing rengga marang uripku, kowe sing mangerteni
Ucul lan baline tali tresnaku, kowe sing mangerteni
Seneng lan cuwaku kowe sing mangerteni
Udan..
Kowe sing kabeh ngerti lelakonku
Ora bakal ana liyane
Mung kowe udan..
Semarang, Juni 2011
















Semut

Semut mlaku baris rentep-rentep
Apa kleru yen awake dhewe nyonto lakune semut
Sanajan akeh
Tetep bisa anut, manut lan runtut
Apa kleru yen nagari iki kaya lakune semut
Tekan kapan nagari iki arep kaya mangkene
Tekan kapan pak mentri nganggo mercy
Rakyate dadi TKI
Tekan kapan pejabat mangan roti
Rakyate mangan sega wingi

Kapan nagari iki bisa kaya lakune semut
Kayata Ngastina ing tangane Pandudewanata
Semarang,Maret 2011

Jumat, 10 Juni 2011

Just 4 D

kututup mataku
kucoba masuk ruang lain
namun ternyata aku masih diruang hatimu
tubuhku saja diruang lain, jiwaku masih bersamamu,
seberapa lama pun akan kutunggu
hingga kau buka hati untukku
menunggu lebih baik dari pada menikmati yang tak pasti
menunggu akan selalu kujalani untukmu
untukmu yang selalu mengisi ruang hatiku
yang tak pernah absen hadir dalam perasaanku
yang selalu membawakan bunga dalam tidurku
D kembali kutulis untukmu..

Rabu, 09 Februari 2011

Tak Adil



Kadang kesendirian ini membawaku berfikir bahwa hidup memang tak begitu adil, kurasa aku memang cukup cantik dan layak untuk mendapatkan sosok lelaki seperti yang kuidamkan. Namun rupanya takdir berkata lain, sosok seperti Andre yang selama ini kupuja-puja tak dapat kutakhlukan. Kurasa dia tak begitu tampan hanya saja kharisma seorang playboy melekat pada dirinya, seorang playboy ya aku begitu mengagumi seorang playboy. Bagiku playboy bukanlah sesuatu yang buruk melainkan suatu tantangan tersendiri untuk mendapatkannya.
Kebanyakan lelaki memang suka bila mereka disebut playboy, mungkin itu karena seorang playboy lebih banyak menakhlukan wanita dan itu merupakan suatu prestasi. Namun itu tak kudapat dari seorang Andre, dia tak suka bila disebut playboy. Katanya wanita adalah sosok yang pantas untuk mendapatkan perhatian maka tak salah jika ia menyayangi lebih dari satu wanita.
Kukenal Andre saat hatiku telah pulih dari luka lama yang kuperoleh dari seorang yang aku tak suka menyebut namanya lagi. Sebut saja lelaki itu R, R memang lelaki terlama yang pernah menancap dihatku. Tiga tahun memang waktu yang tak sedikit bukan? Dalam tiga tahun tersebut R sudah mampu mebuatku cinta mati kepadanya bahkan dengan ikhlas menyerahkan keperawananku kepadanya. Sebelas bulan yang lalu R meninggalkan ku dengan alasan yang tak jelas, namun dua minggu kemudian dia kudengar telah menggandeng seorang wanita. Memang lelaki bisa dengan begitu mudahnya melepaskan seorang wanita setelah mendapatkan kenikmatanya.
Sebenarnya sudah empat tahun yang lalu aku mengenal Andre, hanya sekedar tahu saja tak lebih. Ya karena dia sekampus denganku sebelum aku memutuskan untuk pindah universitas. Namun ketahuanku ternyata memang dibalas dengan Andre yang mengetahui lebih banyak tentang aku. Berawal dari dunia maya Andre menyapaku kemudian seolah mendekatiku dan aku pun merasakan perasaan yang pernah kurasakan kepada R. Andre ternyata tak hanya mengenalku secara fisik dia tahu nama lengkapku bahkan kegemaranku, entah dia mendapatkan info tersebut darimana. Sebagai seorang wanita mendapatkan pujian memang sangat menyenangkan, begitulah yang terjadi padaku. Tiap kali Andre memujiku dengan gombalan-gombalannya aku merasa seperti dibawa terbang melayang.
Makan malam pertamaku dengan Andre di sebuah kafe kecil yang eksotis membawa kesan keromantisannya. Namun keromantisan itu tak kudukung dengan sikapku yang humoris dan blak-blakan. Setelah itu terjadilah dinner-dinner lain  yang cukup sering, dan alhasil membawa perasaanku jatuh kehatinya. Rasa rinduku mulai menyelinap ketika tak mendengar kabar darinya, semakin ku merindukannya entah mengapa semakin juga ia jarang muncul.
Suatu hari, Della sahabat terdekatku memberi tahuku bahwa ternyata Andre adalah seorang playboy. Dia sudah terkenal buaya darat di kampusnya, namun bukannya aku benci kepadanya justru aku semakin ingin mendapatkannya. Aku semakin gencar mencari info-info tentang Andre, bahkan sampai aku mengetahui semua mantan-mantannya. Tak sampai disitu bahkan aku mengetahui semua aktifitas yang dilakukannya setiap hari. Kagum juga aku dengan dia yang bisa jalan dengan tiga wanita sehari, tajir sih tidak begitu namun kharismanya yang membuat banyak wanita bertekuk lutut dihadapannya.
Dua minggu belakangan Andre tak menemuiku memang, namun aku sering mengikuti kemanapun dia pergi. Entah mengapa bahagia rasanya melihat sosoknya walaupun dia sedang bersama wanita lain. Sampai suatu hari Andre kembali menyambangiku dan mengajakku kencan, kali pertama kencanku dengan Andre setelah aku merasakan cinta kepadanya. Lain rasanya memang, aku yang biasanya nyerocos jadi sedikit pendiam dan sering memperhatikannya. Rupanya Andre melihat perubahanku, aku selalu  mengelaknya ketika dia bilang “Kamu malam ini beda”.
Setelah kencan yang menegangkan itu Andre pun kembali sering menemuiku, dan aku pun masih sering membuntuti tanpa sepengetahuannya. Yang aneh, Andre tak kunjung memacariku setelah hampir dua bulan jalan denganku padahal wanita-wanita lain hanya butuh waktu seminggu untuk PDKT. Aku semakin penasaran dengannya, semakin ku ingin mengetahui lebih dalam tentang seorang Andre. Hari-hariku menjadi sesak oleh angan-angan tentang seorang Andre, bayang-bayangnya begitu egois memasuki otakku sehingga aku sering tak konsentrasi.
Karena sudah tak kuat lagi ku membendung rasa, akhirnya kumuntahkan juga isi hatiku. Seperti biasanya ketika dia mengajakku makan malam aku memuntahkan isi hatiku, dia seperti dibius ketika aku berbicara tentang isi hatiku. Setelah selesai aku bicara akhirnya ia pun angkat bicara “Ve, sorry aku nggak bisa jadi pacarmu” seperti badai Katrina menerjangku, tak kuduga dia akan menjawab seperti ini. Dia mengatakan aku sudah terlalu jauh mengetahui tentang dirinya walaupun ia juga sebenarnya sayang denganku. Sungguh alasan yang tak masuk akal, namun keburukannya itu tak mampu menggoyahkan rasa cintaku.
Setelah peristiwa itu Andre tak pernah lagi menemuiku dan entah mengapa aku juga tak pernah bertemu dengannya. Aku tak lagi membuntutinya karena kurasa tak ada gunanya lagi, dia sudah mengetahui isi hatiku jadi jika dia ingin memilikiku ku yakin suatu saat nanti dia akan datang sendiri kepadaku. Saat ini aku kembali kepada kesendirianku, kembali menapaki hari-hariku yang sepi untuk kali kedua setelah merasakan sakit hati. Memang kadang kurasa hidup ini tak begitu adil, namun kadang aku juga berfikir ini memang telah tergariskan untukku. Aku mungkin digariskan untuk seperti ini sampai suatu hari nanti yang tak tahu itu kapan.
22 Januari 2011

Tak Lebih

Kau tak mungkin lagi kembali padaku
Sadar aku akan hal itu
Diriku juga tlah disisinya yang jauh lebih baik darinya
Satu yang kuingin darimu
Sapalah aku sebagaimana layaknya sahabat
Aku tak mengharap lebih

Selasa, 04 Januari 2011

.D.S.

Kusebut namanya dengan inisial DS bukan Daniel Steel pengarang Zoya, juga bukan Dian Sastro, namun dia adalah seorang yang pernah dan bahkan mungkin selalu hadir dalam relung hati ini. Entah dibagian mana ku tempatkan namanya, apakah berada di pintu depan hati ini atau malah di bilik yang tersembunyi. Yang ku tau dia telah memberikan banyak perubahan kepadaku, dia yang membuat aku percaya lagi dengan adanya CINTA karna aku mencintainya. Cinta yang bagiku unik,  cinta diatas perbedaan yang menurutnya tak bisa disatukan.
Di penghujung tahun 2010 dia hadir dihatiku, dengan segala kenekatanku aku berusaha tuk dapatkan apa yang ku mau, namun ternyata Tuhan belum mengijinkan aku tuk bersamanya. Mungkin dia tak pantas bagiku atau sebaliknya. Atau mungkin waktu saja yang belum siap untuk mempertemukan kita kembali dalam sebuah ikatan, itu yang selalu menjadi anganku agar dia bisa bersamaku kelak.
Dia mengisi hati ini setelah sekian lamanya kering dan rusak, ah namun ternyata kudapati hatinya juga rusak tak jauh beda dengan diriku. Hanya saja dia terlalu dingin dan sulit untuk jujur kepada dirinya sendiri, dia tak ingin mengatakan bahwa dirinya rapuh.
Ahh....bicara tentang dia tak kan ada habisnya dimataku, aku hanya ingin katakan bahwa dia begitu istimewa dihatiku,,,,,

cover depan dan belakang dari karyaku


Retno


“Pojok pak” kandhane Retno marang sopir taksi sing di tumpangi.
“Mboten mlebet neng?” pitakone sopir taksi.
“Ora usah, wis wengi banget”
Wis jam telu esuk nalika Retno bali saka pangkalane, sayup-sayup krungu swara wong ngaji lan klothak-klothak saka warteg Miun ing pojokan gang kono. Karo nyangking tas coklat Retno katon mlaku cepet-cepet, dheweke selak ora sabarkepengen ketemu Indah. Duwit sing diwenehke pak Jamal mau bisa nyukup kanggo bayar kuliahe Indah, mikire Retno. Sing diwenehke kanggo imbal balike dheweke nglayani Pak Jamal pancen mung 300 ewu, nanging sing 700 ewu iki mbuh silihan apa wenehan Retno ora ngerti.  Sing penting Indah bisa tetep kuliah ngono mikire Retno.
Pak Jamal pancen wis dadi langganane awit telung taun kepungkur, dheweke bisa nggawe Pak Jamal tetep setya marang dheweke. Sanajan wis umur sewidak taunan nanging pak Jamal isih tetep katon gagah. Dheweke ora tau nganggep Retno kaya ciblek-ciblek liyane, Retno kayata wis dianggep bojone dhewe. Yen ana apa-apa Retno mesti crita karo pak Jamal, kayata masalahe dheweke babagan biaya kuliahe Indah.
Indah, anak siji-sijine Retno sing saiki arep mlebu kuliah kae biyen metu saka dusa kang digawe dheweke karo Bagas, kanca SMAne. Wong tuwane nganggep Retno wis nyoreng jeneng kaluwargane banjur dheweke diusir kaluwargane. Dika ora tanggung jawab amarga dipeksa wong tuwane nglanjutke sekolah ana Amerika.
Retno banjur urip kanthi usahane dheweke, biyen dheweke mung ngandalake kerjane dadi SPG ana ing mall ing Semarang. Nanging Indah saya gedhe ateges kabutuhane saya akeh, perkara kuwi sing ndadeake Retno banjur nyemplung ana ing dunya bar sing ora becik iku. Modal praupan ayu lan body sintal Retno ora angel nawaake awake.
Tekan omah Indah wis turu, kaya biasane Retno masak dhisik kanggo sarapan Indah banjur adus ngilangke dusa sing entes bae dilakoni. Sanajan ngilangke lahir tog nanging kanthi cara ngono Retno bisa lega. Bubar adus Retno turu, biasane dheweke tangi jam 10an, wektu kuwi Indah wis mangkat ning kampus. Dheweke bungah ndelokake Indah, bocahe pinter dadi ora kaget yen dheweke  bisa masuk universitas negeri kanthi biaya ringan.
***
Ora kaya biyasane wengi iki pak Jamal ora ana kabare, sakjane wengi iki jadwale Retno nglayani pak Jamal. Saben akhir minggu pancen jadwale dheweke kanggo nglayani pak Jamal, dadi dheweke ora usah ngrayu Om-om liya. Terakhir telung dina wingi pak Jamal pancen tilpun yen dheweke lagi ora kepenak, nanging apa ya saiki isih lara. Retno dadi ora kepenak rasane, nomere ora bisa dihubungi.
“Upama pak Jamal wis ora dadi pelangganku banjur kepriye uripku?”Retno malah mikirke sing ora-ora. Pak jamal pancen sing sakwene iki ngrengga uripe Retno lan Indah. Malah pak Jamal tau ngejaki Retno nikah, nanging Retno ora gelem. Apa ya Retno arep nyoreng kaluwargane pak Jamal merga dheweke dadi bojone pak Jamal.
Retno ngalamun bae karo sedhela-sedhela ngisep rokoke. Pikirane mlayu-mlayu tekan endi-endi sanajan ragane namung ana ing kursi bar. Dheweke kelingan wong tuwane sing ana ing Purwokerto, kaya apa saiki kaanane? Apa ya isih lancar usahane bapake? Apa ya padha isih eling marang dheweke?
“Hai..” ujug-ujug swara gagah ngagetke lamunane Retno.
“Oh...Hai..”swarane Retno nggemesake.
“Loh...Retno?”
“Emmm.....Bagas??”
“Iya..ngopo kowe tekan kene Ret?”
“Yo kaya ngene iki akibat saka ulahe dhewe biyen”
Pancen ora ngira, ora nyana yen Retno bakal ditemokake meneh karo Bagas. Apa maneh ning panggonan sing kaya ngono kuwi. Saiki Bagas wis sukses dheweke mimpin perusahaane bapake sing ana ing Semarang. Kaluwargane uga harmonis duwe bojo pangerten lan anak loro lanang wadon.
Awit patemone Retno karo Bagas banjur Bagas mangerti apa sing dadi pikirane Retno. Bagas kerep dolan ana ing omahe Retno, sejatine arep nileki anake. Nanging Retno durung menehi ngerti yen Bagas kuwi bapake Indah. Retno wedi yen Indah malah sengit karo Bagas, Bagas pancen katon akrab banget yen karo Indah. Ya kaya bapak lan anak kae.
***
Retno nangis nalika ndeloke berita ing TV yen Jamal Akbar pengusaha terkenal kuwi tilar dunya merga lara jantung. Jamal Akbar sing ora liya yaiku pak Jamal kang biyasa dadi langganane wis tilar dunya merga lara jantung.
Nanging ora kaya sing dibayangke sakdurunge, uripe Retno lan Indah saiki malah direnggo kabeh karo Bagas. Seko setitik Retno ninggalke pagaweane dadi ciblek, dheweke usaha butik kanthi modale Bagas. Uripe saiki pancen ora dibayang-bayangi dusa nanging isih ana pangganjel ing atine Retno yaiku bab Bagas yen sejatine yaiku bapake Indah.
Bagas wis kerep nawani Retno supaya jujur bae karo Indah, nanging Retno isih durung siap ngerti yen Indah kerep crita dheweke kuwi sengit karo bapake sing ora tanggung jawab babar blas.
“Mengko yen wis siap aku bakal ngomong kok mas”
“Ya sing tak jaluk kowe ndang ngomong bae”
“Apa kowe ora arep nikahi aku mas?”
“Ya kepingin, nanging aku apa ya tega marang bojoku. Dheweke wis ngancani aku pirang-pirang taun Ret”
“Iya, aku paham kok mas”
Wis rong taun iki Retno tetepungan maneh karo Bagas. Retno durung ngandaake yen to Bagas kuwi sejatine bapak saka anakku. Indah ya ora tau takon maneh bab sapa sejatine bapake kuwi. Nanging saiki kayata dheweke wis ora sanggup meneh mendem rahasia iki. Dheweke nggolek wektu sing pas kanggo ngomong marang Indah.
Wengi iki bali saka butike Retno katon kesel banget ora kaya biyasane. Pancen wis pirang dina iki dheweke kurang turu. Tekan ngarep omah swasana omahe wis sepi ora kaya biyasane isih krungu swara tv, dheweke ngira yen Indah wis turu.
Bareng buka lawang Retno nemokake kertas ing duwur meja katulis pesen saka Indah.
Bu, sak durunge njaluk ngapura. Aku lunga ora pamit, aku wis ngerti sapa sejatine om Bagas. Wong sing biyen gawe ibu nelangsa. Aku ora ngira yen ibu isih mbukak ati kanggo om Bagas. Aku lunga nenangke pikir bu. Ibu ora usah kuatir.
Kaya disamber gledek Retno maca tulisane Indah.
“Indaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh......!!!!!!!!!!!!!!”

Jumat, 31 Desember 2010

Belajar ikhlas


“Memang cinta harus ikhlas?”
“Bukan hanya cinta tapi hal apapun jika ikhlas akan lebih baik”
“Kamu juga ikhlas jika orang yang kamu sayangi bahagia? walaupun merugikanmu?”
“Mungkin awalnya nggak tapi berusaha untuk ikhlas apa salahnya?”
“Walaupun itu merugikan kamu?”
“Ya,melihat orang yang kita sayangi bahagia walaupun kita dalam keadaan yang tersakiti memang sakit, tapi akan lebih sakit jika kita tidak mengikhlaskannya”
“Memangnya kamu belajar ikhlas dari mana ?”
“Putaran kehidupan yang mengajariku tentang semuanya, termasuk keikhlasan. Kamu masih belum ikhlas jika Dea telah pergi ya?”
“Mungkin, sama seperti kamu ketika kehilangan Rido bukan?”
“Hmmm……entahlah. Jika aku ingin menawarkan sebentuk kasih sayang kepadamu?”
“Sebagai pengganti kasih sayang Dea?”
“Bukan!... Aku ingin menjadi diriku sendiri, jika aku menggantikan Dea itu artinya kamu nggak ikhlas dengan kepergiannya, karena aku masih kau anggap sebagai Dea bukan?”
“Jadi??”
“Aku ingin kamu belajar mengikhlaskan Dea, dan mulai memandang ke depan”
“Dan kau akan selalu menemaniku bukan?”
“Tentu saja, tapi bukan sebagai pengganti Dea!”
“Ya, makasih ya sayang, hari ini aku belajar ikhlas padamu”
               Hendra mencium dahiku sebagai akhir pertemuan malam itu, usia pacaran kami memang baru berapa minggu namun terasa sudah lama sekali aku menjalin hubungan dengan Hendra. Ku sadari jika Hendra belum bisa menerimaku sepenuhnya karena bayang-bayang tentang Dea, mantan kekasihnya masih melekat di pikirannya. Dan aku hadir bukan untuk menjadi pelariannya, aku ingin dia mengikhlaskan Dea dan menerimaku sebagai Arin bukan sebagai Dea.
###


Mungkin aku datang disaat yang tidak tepat waktu itu, Hendra baru saja kehilangan Dea. Dea beralih ke pelukan oranglain dan aku tahu betapa sakitnya rasa itu. Aku pernah merasakan hal yang sama dan butuh waktu berbulan-bulan untuk mengikhlaskan Rido ke pelukan Vera. Lebih dari dua leleki yang pernah kujadikan korban pelarianku, belajar untuk ikhlas memang sulit sekali.
Kali ini aku hadir di samping Hendra untuk menemaninya belajar ikhlas, aku tak mau jika hanya dijadikan sebagai pelarian semata. Bagiku Hendralah yang mampu membantuku untuk mengikhlaskan Rido, dan sekarang aku ingin membalasnya agar Hendra bisa mengikhlaskan Dea.
Awal pertemuan kami memang tidak biasa, jejaring sosial facebook yang mempertemukan kami. Walaupun ternyata Hendra pernah se SMA denganku meskipun itu hanya satu tahun. Hendra yang dulu dikenal dengan master ilmu hitung, nyatanya kini masih seperti dulu. Jurusan teknik kimia yang dipilihnya tidak melenceng dari otaknya.
Hendra Blanked               : Hai…
Arin Manojna                   : Iya
Hendra Blanked               : Kamu lulusan SMA 32 ya?
Arin Manojna                  : Kok tau?
Hendra Blanked               : Iya perasaan dulu pernah liat kamu….
Arin Manojna                   : Emank kamu juga alumni SMA 32 ya?
Hendra Blanked               : Iya, tapi aku cuma setengah tahun disana, kelas satu tog
Arin Manojna                   : Ummb,,,,trus skrg kul mana?
Hendra Blanked               : di Solo, km dmn?
Arin Manojna                   : Q d smrang,  nama asli km cpa to?
Hendra Blanked               : Hendra Ardi Setyawan, km dulu ndak sering ma Nora?
Arin Manojna                   : Iya, kok tau?
Hendra Blanked               : bErarti dulu kita pernah ktemu di kantin pas q ma Alim, km ma Nora..
Arin Manojna                   : Oh,,,kamu si Ardy yang jago matematika itu ya?
Hendra Blanked               : Ah…jangan gitu donk, jadi besar kepala aku.
                                              BTW leh mnta CPmu gag?byar lbih enak ngbrolnya.,,
Arin Manojana                 : CPmu dulu….
Hendra Blanked               : 085643000003, Cp mu??
Arin Manojna                   : 085640207830,MC ya…!!
Hendra Blanked               : ok, q off dlu ya,,
                                              Bye…
Semenjak itu intensitas komunikasi kami tidak hanya lewat fb, namun hampir tiap hari kami smsan,rasanya seperti sudah mengenalnya lama walaupun hanya dari tulisan dan suara. Kurasa dan menyenangkan walaupun agak dingin sepertinya. Menjadikan aku tak sabar untuk segera bertemu dengannya.
10 oktober 2010, tanggal yang cantik secantik hari yang kujalani. Hari itu aku pertama kalinya bertemu dengan Hendra , sosok tinggi, jangkung dan berkulit sawo matang berbeda sekali dengan Rido yang sedikit gempal dan putih. Hari itu juga kami memutuskan untuk menjalin hubungan cinta. Walupun aku tahu Hendra belum sepenuhnya bisa menerima aku, Dea masih membayang-bayangi pikirannya. Seperti yang kukatakan aku tak mau menggantikan Dea dalam pikirannya, aku ingin menjadi sosok baru dalam kehidupan Hendra.
Karena jarak Solo Semarang cukup jauh, maka intensitas pertemuan kami pun tidak sesering ketika aku bersama Rido. Namun karena itu juga tiap kali bertemu rasanya bahagia sekali. “Saling percaya” kurasa hal itulah yang bisa membuat kami tak mudah termakan cemburu.
Hendra memang bukan sosok yang romantis seperti Rido, dia tak pernah menyanyikan sebuah lagu cinta dan memetik gitar saat kita bertemu. Dia juga tak pernah mengajakku nonton bioskop seperti Rido dulu, dia lebih suka mengajakku nonton film action dengan laptop atau DVD. Dia jarang sekali nggombal sehingga kadang membuatku manyun. Dia lebih suka mengajakku ke tanah lapang yang nggak ada bagus-bagusnya sama sekali dibandingkan mengajakku ke pantai. Namun aku bahagia dengan semua itu, kurasa itulah wujud keromantisannya.
###

Kuliah MKU menurutku memang mata kuliah yang sangat menyebalkan, membahas bagaimana hebatnya Indonesia memperebutkan Kemerdekaanya padahal realitanya sekarang Indonesia jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan Jepang yang pada tahun 1945 luluh lantah. “Belum terlalu penting bagi orang sepertiku”,pikirku. Daripada tidur dikelas kurasa lebih baik mengotori blocknote yang selalu menjadi isi tasku. Seperti biasa sketsa wajah orang yang selalu kugambar, entah mengapa aku senang menggambar sketsa wajah seseorang. Karena pada dasarnya ngantuk, gambar  yang kubuat belum selesai pun aku sudah molor.
“Mbak…!!” suara lirih seorang gadis membangunkanku.
“Ehm….iya..” jawabku setengah sadar.
“Udah selesai, keluar yuk..!! mau dipake kelas lain” ajak gadis berperawakan kecil itu.
“Iya,makasih ya udah bangunin..” jawabku sambil memungut blocknoteku yang tadi jatuh.
“Itu ada yang jatuh mbak..!” kata gadis itu mengingatkan.
“Oh….iya..” kuambil kertas putih yang jatuh dan ternyata setelah dibalik fotonya Hendra, kubersihkan foto yang sudah terkena debu itu dengan malu-malu.
“Maaf mbak, itu siapa ya?” kata gadis itu menunjuk ke foto Hendra.
“Hmm… ini foto pacarku koq mbak” jawabku datar.
“Itu..itu Hendra kan!!” kata gadis itu memelototiku membuatku takut.
“Iya, mbak kok tau?” jawabku ketakutan.
“Oh…jadi kamu ceweknya Hendra ya?”katanya lantang membuatku semakin ketakutan.
“Iya”
“Jadi ternyata kau, yang membuat Hendra jadi kaya gitu” gadis itu menyeretku keluar ruangan.
“Tenang dulu mbak..!! aku tak mengerti apa yang mbak maksud, bisa dijelaskan pelan-pelan” kataku berusaha sabar.
“Ya..Hendra adalah mantanku sejak SMA. Semenjak kami putus dia sangat kehilangan aku,dan yang kutahu dia frustasi. Tak berselang lama setelah aku putus dengannya, aku punya pacar lagi, Verry namanya, Hendra tahu kalau aku telah bersama Verry karena Verry tak lain dan tak bukan adalah teman SMA  kami juga. Aku tak tahu persis kapan kejadiannya, yang kutahu Hendra menabrak Verry sehingga Verry luka parah dan kini Verry udah nggak ada. Hal itulah yang membuatku benci dengan Hendra. Dan ternyata kekasih Hendra sekarang ada didepanku..”jelasnya detail.
“Berarti mbak itu Dea ya?” kataku memotong.
“Kamu sudah tahu tentang aku?”
“Ya, Hendra yang menceritakan semuanya. Kurasa Hendra sakit hati karena mbak terlalu cepat menemukan pengganti Hendra” kataku sok bijak.
“Ya..kamu pasti membelanya karena kamu pacarnya!!”
“Dan asal mbak tahu,itu bukan merupakan kapasitas saya, okey makasih mbak  aku masih ada urusan yang lain!” kataku menutup pembicaraan dan meninggalkan Dea.
“Tunggu…!!!”
“Jika masih ingin bicara lain kali temui aku di Bahasa asing”kataku  sedikit mangkel.
Ternyata Hendra menyembunyikan sesuatu dariku, dia nggak pernah bilang jika dia pernah berurusan dengan pacar Dea hingga separah itu. Dan lebih parah lagi Dea ternyata sekampus denganku. Sepulang kuliah Hendra berkali-kali meneleponku dan tak kuangkat sama sekali. Berkali – kali dia sms aku dan tak kubalas satupun, hari itu aku benar-benar terpukul. Rido kembali masuk dalam pikiranku disaat-saat seperti ini, ahhh….ternyata aku pun belum bisa mengikhlaskan Rido sepenuhnya.
Dua hari setelah kejadian itu aku masih ngambek dengan Hendra, walupun semalam teleponnnya kuangkat tapi sms hari ini belum kubalas. Entah mengapa aku merasa dibohongi sekali, aku takut kejadian Rido yang tega membohongi aku ketika mendua dengan Vera terulang kembali. Tiba-tiba Hpq berbunyi, tak disangka sms dari Dea.
Maaf yg kmren, q salah jka ngadu k kmu. Yg slh Hendra bkn km.
DEA?
Dari Dea?? Kok bisa tau nomerku ya? Ah… entahlah mendingan aku tidur aja.
“Rin…!! Ada yang nyariin” panggil mbak kostku hingga aku terbangun.
“Iya mbak..” jawabku setengah sadar sambil berfikir siapa yang mencariku siang-siang begini.
“Hendra..!!!” kaget melihat Hendra telah duduk diteras ruang tamu.
“Iya, ini kan yang kamu mau?”
“Hmm..” jawabku masih tetap manyun.
“Dari solo kapan?”
“Tadi pulang kuliah, jalan yuk!!” ajak Hendra.
“Kemana aja, kamu mau kemana?”
“Pantai ya!!” jawabku sedikit merengek.
“Iya, “
Hari yang special, aku bisa ke pantai bersama Hendra, tak hanya itu dia juga membawa kado kecil buatku sebagai rasa maaf katanya. Setelah ku buka ternyata isinya Cuma pemotong kuku, senyumku hilang berganti dengan manyun.
“Tahu nggak kenapa aku kasih itu?”
“Enggak, cuma gini doank juga”
“ Artinya kamu harus rajin memotong kuku sayang, tu lihat kukumu panjang-panjang banget”.
“Jahat”
“Kok jahat?”
“Iya, masa ngasih cuma kaya gini doank”
“Yang penting keikhlasan kan?”
“Trus Dea gimana?”
“Udah baik-baik aja, tadi aku udah nemuin dia. Dan orang terjelek yang ada disampingku ini dapat salam”
“Salam balik, tapi jangan orang terjelek”
“Trus?”
“Termanis donk”
“Tapi cium dulu!!”
“Nggak mau”
“Nggak jadi termanis kalau gitu”
“Muach…..”
“Gitu dong, jadi manis sekarang”
“Sayang sama aku?”
“Kok masih tanya?”
“Sayang nggak?”
“Sayang dong”
“Ikhlas?”
“Ikhlas, pokoknya Hendra sayang sama Arin”
“He,,,he,,,”
Terimakasih Tuhan, aku sekarang bisa tersenyum lagi bersama Hendra. Aku telah mengikhlaskan Rido dan Hendra telah mengikhlaskan Dea. Kami juga sama-sama ikhlas menyayangi. Terimakasih Tuhan.












Kamis, 30 Desember 2010

Pacar Khayalan



Kaya biasane sore iki aku jogging ana ing taman kota , dhewekan amarga Rio kancane sing biasa ngancani aku lagi bali kampung. Mlayu-mlayu ngelilingi lapangan ping telu wae wis gawe awakku kringeten kabeh. Aku banjur leren dhisik ana dingklik taman karo ngombe banyu putih.
Saka kadohan aku ndelokake bocah-bocah wadon kang lagi basketan ana lapangan basket sisih taman, ana bocah siji kang tak delokake terus. Bocah nganggo kaos basket putih kae pancen luwes tenan maine, sanajan perawakane ora kaya atlet nanging maine pinter banget. Aku ndelengake bocah-bocah wadon kae tekan rampung nganti lali yen aku lagi ping telu olehe mlayu-mlayu keliling taman. Aku nyedaki bocah mau nalika dheweke wis arep bali pinuju parkiran.
“Basketmu pinter banget to mbak?”
“Alah...biasa wae kok mas, sampeyan mau ndelengke aku pa?”
“Iyo, luwes banget maenmu”
“He..he...maturnuwun mas”
“Sami-sami neng, eh..kenalke aku Egha”
“Dea”
“Mulih nengdi mbak?”
“Peterongan mas, aku bali dhisik ya, wis sore”
“Iya..iya..”
Awit kedadean kuwi aku kerep ngalamunke Dea, sanajan aku mangerti yen aku iki ya wis duwe pacar. Kadang aku bayangake upama Lisa bisa kaya Dea, pinter basket gayane ya biasa wae nanging katon luwes. Beda bangetlah karo Dea sing senengane shoping ing mall, saba salon saben rong minggu pisan durung maneh perawatan ana ing dokter kecantikan. Ahh...pancen cewek, apa wae penting bisa ayu.
***
Dina iki Lisa ngrayu-ngrayu aku supaya gelem ngancani blanja ana ing mall, wis kena tak bayangake yen ning kana aku bakal dadi kaya bendarane dheweke nyangking kresek pirang-pirang, mlaku ana ing burine lan ngomentari klambi apa sepatu jinjit sing dijajal. Yen aku wis ngomong males, apa “ayo bali” , lagi Lisa sadar marang apa sing dilakoni. Dheweke banjur nawani apa sing tak pengini, aku mung ngomong pingin rokok. Ya pancen udud bisa gawe atiku sing lagi mangkel iki kurang sithik.
Bareng mudhun ana ing lantai dhasar aku weruh Dea pinuju toko alat musik. Ealah... penampilane mono yo ora sesampurna Lisa, mung nganggo celana jins karo kaos komprang nanging kok luwes banget katone. Aku banjur ngetutake Dea lali yen isih duwe tugas ngancani Lisa. Jebule Dea lagi tuku stik drum, wah saliyane pinter basket uga pinter maen drum. Tambah nggemesake wae pancen bocah iki.
“Eh...mas Egha?” Dea nakoni aku kaya rada kaget.
“Dea... kok bisa ketemu ya? Lagi golek apa kowe?”
“Iki mas golek stik, stikku tugel wingi pas gawe latian. La sampeyan golek apa mas kok gawane sakmono akehe?” pitakone Dea karo rada ngguyu ndelokake aku gawa blanjan pirang-pirang kresek.
“Oh... lagi ndelok iki Gitar katon saka njaba kok katon apik, banjur tak deleng saka cedak” jawabku asal sing penting bisa ndeleng Dea batinku.
“Oh...”
“Kowe ya pinter ngedrum to De?”
“Ah...isih biasa kok mas, iki ngesuk bandku arep tampil ana ing festival seni, nonton ya mas?”
“Nengdi De?”
“Gedung Pemuda mas, jam wolu mulaine”
“Oh..iya, insyaallah ya”
“Ok, wis disik ya mas, selak arep latian kanggo tampil sesuk”
“Oh..mangga-mangga nderekake”
Aku metu saka toko bareng kelingan yen aku isih ngancani Lisa blanja, jebul Lisa isih wae nyoba-nyoba klambi awit mau. Ahh.... upama Lisa bisa kaya Dea ya? Seneng olahraga, musik, la wong tak jak jogging wae jare wedi kempole tambah gedhe.
“Yang pantes rak?” pitakone Lisa ngagetake lamunanku.
“Pantes kok, tambah ayu” komentarku ngawur.
“Iki mbak, tak jupuk”
“Oh, ya yank bar iki bali ya, kesel aku”
“OK, siap bos he...he..” jawabku seneng amarga tegese aku bisa cepet-cepet ketemu kasur.
Sakbubare mangan lan ngeterake Lisa aku banjur bali menyang kontraanku, arep turu kareben kesele bisa cepet ilang. Sakdurunge turu kok aku isih wae kepikiran Dea ya? Jan pancen bocah kae kok ya ngebaki pikiranku terus. “Eling Gha, kowe kuwi wis duwe Lisa”  atiku kadang ngomong kaya mangkono.
***
Bengi iki aku pancen wis janji arep ndelok Dea manggung ana ing gedung Pemuda. Jam pitu aku wis budhal saka kontraan selak ora sabar ndeleng Dea nabuh drum. Tekan gedung Pemuda jebul durung rame, malam puncak festival seni iki pancen biasane rame karo band-band bocah nom-noman.
Jam setengah sanga Bandne Dea manggung, katon endah tenan. Sakwise aku banjur mlebu ana buri panggung marani Dea. Ealah jebul Dea kok wis karo jejaka sing katone ya pacare, mesra banget. Tak wurungake niatku mlebu, kanthi langkah sing wis ora semangat aku bali menyang kontraan. Yen tak pikir-pikir kenapa aku cemburu ya? Wong Dea lak ya dudu sapa-sapaku ta?
Aku langsung turu bareng tekan kontraan, ora peduli omongane Rio yen mau Lisa nggoleki. Mau aku pancen ora ngomong Lisa yen arep lunga.
“Kok saiki kowe malah dadi seneng jogging to Lis?”
“He..he...aku kepingin nyenengake kowe to mas, masa aku ngejaki neng mall terus nanging ora tau nuruti pangajakmu hee...he...”
Ah...Lisa wis kaya Dea saiki, aku seneng. Lisa wis gelem melu jogging saben sore, dheweke uga wis asring ngejaki jalan-jalan ning mall.
Deaaa..........!!!!!!!!!!!! aku seneng.
Jebul mau kabeh mung ngimpi, tangi-tangi ning sisihku wis ana Lisa sing isih sesenggukan. Aku dhewe ora mudeng kok ujug-ujug ana Lisa ing sisihku, lagi nangis maneh.
“Gha...taak kira wis cukup semene wae anggonku sesambungan karo kowe”
“Loh..loh...ana apa to Lis, kok ujug-ujug mangkene?” pitakonku kaget.
“Aku wis ning kene awit mau, krungu kowe kok nyebut-nyebut jeneng Dea, sapa ta Dea ki nek ora wong wadon liya, iya ta?”
“Ora kaya mangkono Lis, ora separah kaya sing mbok bayangake..”
“Alah..kakean alesan, wis aku njaluk bubar”
Lisa banjur lunga mulih, aku isih thenger-thenger ana ing kasur. Jebul ngimpi mau gawe pranyata sing ora enak. Dea mung khayalanku, Lisa pacarku sing asli malah lunga saiki wis ngajak bubar karo aku. Goblokk..........!!!!!!




Selasa, 28 Desember 2010

G I L A



Ketidak warasan padaku yang membuatku seperti ini
entah apa yang mereka rasa
dan entah apa yang kurasa


bulsyhit dengan semua ini
buatku tertawa namun batinku menangis


puas????
TIDAK
kurang??
CUKUP
lalu???
ENTAH


dunia ini memang tak berujung
tak ada yang tau kapan akan berakhir


aku akan berhenti dalam permainan ini
namun kesepian menghantuiku
aku akan melanjutkan permainan ini
namun diri ini seperti matirasa

menghapus dirinya dari hati??
tidak,
hanya ingin kujadikan sebagai bagian dari hidupku

Tuhan,,,
jaga dia untukku kelak..
_:)

Gambar Kembar




Kembar gambare
Gambarane wong kembar
Kaya jambe sinigar
Kembar tengen kiwane sing dikarep ya ijen
Becik ya ijen becike
Lembah manah ya ijen lembah manahe
Ora mung kembar sakpada watone
Mung kaya gambar kembar
Mung kembar gambare
Ora tinuku lathine
Ora diumbar simbare
Kaleme kalem watu gunungdigdaya nalika ngglundung
Najan meneng uga digadya
Meneng anteng sinanding dupa











Kedung Balung




Sih lan tresnaku kanggo kowe
Ora mung kanggo sakminggu
Ora minggu iki,
Ora minggu wingi
Mung wewayanganmu sing tak golek
Ing layang-layangmu
Tak waca bola-bali
Bola-bali tak waca
Bola-bali tak anyari pandongaku
Kanggo kowe
Kanggo saiki tekan mbesuke
Kanggo kowe sing ana ing kedung balungku